Rabu, Maret 29, 2023
Profile Picture of Sochib e-lbashr
Selasa, Februari 21, 2023
Di bulan Februari ini, anak2ku berulang tahun. Menyadarkanku, anak2 yang terus bertumbuh, bukan kanak2 lagi seperti beberapa tahun lalu, saatnya kini memasuki masa-masa remajanya.
Ada pepatah mengatakan, tidak ada orang bijak sejak lahir, artinya memang pada dasarnya semua anak-anak sama saja. Defaultnya adalah sifat manja dan kekanak2an. Jika untuk menjadi dewasa syaratnya harus mampu melewati berbagai tempaan, tentu aku berharap mereka mampu melewatinya dengan baik. Ibarat belajar naik sepeda, sesekali mungkin sakit terjatuh, tapi ia mesti mampu bangkit lagi hingga akhirnya mampu mengayuhnya sendiri.
Cukup khawatir membayangkan mereka menghadapi berbagai tempaan yang ada, tentang rasa sakit dan kecewa yang harus dipahaminya, bagaimana bisa legawa hingga bisa terus maju, tentang bagaimana berinteraksi dengan orang lain, memahami bahwa kemampuan menghargai orang lain sesungguhnya adalah kemampuan menghargai diri sendiri, mengatasi insecurenya sehingga tidak mengganggu pikirannya, berlatih sabar agar mampu memaknai setiap detik berjalan.
dan menasehatinya dengan kata2 sepertinya tak akan bisa dimengerti selain mereka mengalaminya sendiri, sikap sabar tak akan bisa ditransfer hanya lewat kata2, ikhlas dan bersyukur menerima apa yang jadi takdirnya tentu tak bisa dipahamkan hanya dengan omongan.
satu satunya jalan sebagai orang tua senyatanya hanya berusaha memberikan contoh bagaimana bersikap, walaupun sikap itu mungkin baru dipahaminya kemudian. Bahkan orang tua dalam hal mengasuh anak, ibaratnya juga sedang mengayuh sepedanya sendiri, berenang di lautan kehidupan dalam prosesnya sendiri. memang orang tua mana yang pernah merasakan sebelumnya mendidik anak di jaman seperti sekarang ini? saat teknologi begitu pesatnya berkembang? saat apa saja bisa diakses hanya dengan jempol?
Mengutip kata ompung di film berjudul 'Ngeri2 Sedap', Jadi orang tua memang tidak ada tamatnya, harus belajar terus...
Walau punya karakter yang berbeda, dua anakku kuanggap sama. hanya titik awalnya saja yang berbeda2. masing2 dengan kelebihan dan kekurangannya. Satu mungkin satu tingkat lebih sabar, sementara satunya satu tingkat lebih rapih. satunya lebih pintar di sekolahan, satunya lebih perhatian. Berangkat dari situ kuharap mereka mampu mengatasi ujiannya masing2.
Selamat ulang tahun, sayang
semoga ayah dan mamamu bisa menjadi teman terbaik untuk terus belajar dan tumbuh merenangi kehidupan ini, last but not least, semoga kau bisa berbahagia dengan hidupmu dan mampu menemukan dan menjadi diri sendiri...
Jumat, Januari 07, 2022
In Memoriam Ibuku
Kutulis ini untuk mengenang ibu. Biar menjadi semacam memoir yang bisa selalu kubaca untuk mengingatkanku pada sosok ibuku.
Ibu meninggal di usia kira2 78 tahun pada tanggal 19 Desember 21, tanggal yang tentunya akan dapat dengan mudah kuingat, disamping peristiwa itu pasti sangat berkesan pada siapapun yang kehilangan orang tuanya, tanggal ini juga berbarengan dengan teman2 FBku yang ramai menulis status bertema Dies Natalis UGM, suatu acara ulang tahun yang diperingati setiap tanggal 19 Desember. Maka, setiap tahun ketika teman FB posting Dies Natalis UGM, saya akan selalu teringat hari meninggalnya ibu.
Setiap manusia pasti punya kelebihan dan kekurangannya, tak ada manusia yang sempurna, saya tulis yang baik-baiknya saja tentang ibuku, apa saja yang bisa kujadikan teladan untuk melanjutkan hidup yang memang tak pernah titik. Koma, koma, koma terus. Selalu bersambung...
Sejauh ingatan yang aku punyai sejak kanak2, ibu sudah mempunyai penyakit batuk yang parah. Apalagi di waktu dingin (alergi dingin), jika kisah nabi Ayub adalah kisah tentang nabi yang menderita suatu penyakit dan tetap sabar dengan penyakit menahun yang dideritanya, Maka kisah semacam yang nyata bagiku adalah kisah ibuku sendiri. Betapa ibu mampu bersabar dan menerima penyakit batuk yang diderita, batuk2 yang bagi orang yang tak biasa mendengarnya mungkin akan merasa miris. Ibu bisa bermenit2 batuk (Jawa : ngikil), hingga ibupun merasa sungkan jika orang lain terganggu oleh batuknya.
Apakah ibu tidak berusaha untuk menyembuhkan penyakit batuknya? Sudah berbagai pengobatan dokter maupun obat tradisional dicobanya, tapi tak pernah berhasil, hingga beliau sepertinya tidak memikirkan lagi, ibuku hidup dengan batuk yang setiap saat muncul dengan berbagai pemicunya. Entah cuaca dingin atau makanan tertentu yang ternyata bisa menyebabkan batuknya.
Satu hal baik lagi yang mungkin perlu kuteladani dari ibu adalah kegemarannya, atau kesabarannya, menanam tanaman buah tahunan. Di jaman yang serba instan ini, dimana sesuatu diharapkan segera kelihatan hasilnya dengan cepat, menaman tanaman tahunan dimana hasilnya baru kelihatan bertahun ke depan pastinya hal yang cukup mengagumkan, ibu menanmnya seakan buahnya bisa dipanen besuk pagi. Jelas aku kagum, mengingat sampai tulisan ini ditulis, bahkan menanam biji lombok hingga berbuah pun aku belum pernah berhasil. Sejak kecil aku bisa makan buah jeruk, blimbing, mangga atau sirsat dari tanaman hasil ibu menanam dilahan rumah. bahkan tanaman sirsat ibu yang kutanam di Jogja kini masih terus berbuah tiap tahun.
Jika definisi orang romantis adalah orang yang bisa melihat hidup sebagai rangkaian cerita, maka ibuku bisa jadi bertipe romantis, ibu bisa bercerita banyak tentang masa kecilnya, tentang hubungan keluarga siapa anak siapa memanggil apa, momen-momen berkesan dalam hidup yang semua itu diceritakan saat ngobrol. Sayang, ibu tidak terbiasa menulis, ibu hanya bercerita secara lisan. Apa yang coba saya lakukan disini adalah mencoba menuliskannya sebatas apa yang mampu kuingat dan kurangkai dengan kata2ku sendiri.
Aku tahu ibu selalu mengkhawatirkan kehidupanku, tentang apa saja tingkah polah anak2nya. Ibuku selalu melihatku sebagai anaknya yang masih kecil, seakan tak percaya bahwa aku bisa menjalani hidup ini dengan pikiranku sendiri. Suatu waktu seakan ingin kukatakan padanya : "Tenanglah, Buk, anakmu sudah cukup mampu berjalan di dunia ini, yakin bisa menghadapi badai apa saja yang mungkin muncul"
(Badai pasti berlalu, kata pepatah, tapi komentar lucu teman FB : Bukan, bukan badai pasti berlalu, tapi badai pasti berlalu-lalang, tak henti2, ra uwes-uwes, hidup selalu berputar, yang lebih perlu lagi adalah menyadari kehidupan ini memang penuh badai dan bagaimana bisa menghadapinya).
Dalam beberapa bulan terakhir sebelum ibu meninggal, obrolan ibu selalu dalam tema2 kematian, dimana beliau minta dimakamkan, bagaimana ibu mengatakan mungkin beliau mungkin tak bertemu lagi dengan cucunya yang dalam kurun 3 tahunan bersekolah di tempat jauh,
Ibu seakan memberikan pesan, kematian itu alami, kita semua juga akan mati, tidak perlu ditakuti, kalau memang sudah waktunya, hadapi saja.
Salah satu keinginan ibu yang diucapkannya saat masih hidup adalah beliau ingin meninggal tanpa merepotkan orang lain. Dan keinginan ini menurutku benar2 terkabul, ibu meninggal dengan tenang di dekat anaknya. Sepuluh menit sebelum ibu pergi, bahkan ibu masih menjawab pertanyaanku, "aku ki rapapa, mung rasane lemes", jawab ibu. Permintaan ibu untuk dijemput ke Jogja ternyata adalah permintaan agar beliau ditemani anaknya di saat2 terakhirnya. Ibu selama ini memang tinggal sendiri, ada aktivitas ibu di pasar yang tak bisa ditinggalkan, ibu malah terasa nglangut kalau hanya duduk diam tidak punya aktivitas apa2. Ibu meninggal waktu dimana cucu2mya selesai ujian semesteran, istriku juga sudah tidak begitu banyak menguji mahasiwanya seperti minggu2 sebelumnya. Sehingga budaya yasinan dan tahlil di desa yang sampai 7 harian bisa diikuti dengan tuntas.
(Allahummaghfirlaha Warhamha Wa’afiha Wa’fuanha : Ya Allah, ampunilah dia, belas kasihanilah, hapuskanlah dan ampunilah dosa-dosanya)
Jika saat meninggalnya bapakku dulu kebetulan aku baru ada saat jenazah bapak sudah dikafani, pada peristiwa meninggalnya ibu ini aku sendiri yang membopongnya, ikut memangku saat memandikannya, dan ikut masuk ke liang lahat menempatkan jenazahnya.
Teringat kata Ebit G Ade, kematian hanyalah tidur panjang, maka mimpi indahlah engkau, surgalah di tanganmu, Tuhanlah di sisimu, doa2mu yang masuk dalam aliran darahku, denyut nadiku, anak2 dan cucumu yang selalu mengenangmu dan mencintaimu.
Selasa, Oktober 24, 2017
Muezza Sang Jin Penyembunyi Barang
Sampai disini istri tampaknya semakin getem-getem sama sang jin tukang menyembunyikan benda di rumah kami.
Moral cerita yang ingin aku sampaikan disini adalah : "Kalau kehilangan barang di rumah, cari dulu sampai ketemu, jangan buru-buru menyalahkan Om Jin"
Rabu, September 27, 2017
Pengalaman mengurus sendiri STNK yang hilang di SAMSAT Bantul
Ok, kita mulai,
- 1. KTP asli dan foto kopinya sesuai nama yang tertera di STNK
- 2. BPKB asli dan foto kopinya
- 3. Bukti laporan polisi yang telah dilegalisir
- 4. Formulir Cek Fisik Kendaraan.
- 5. Kwitansi pembayaran siaran radio
- 6. Guntingan iklan baris koran
- 7. Surat Pernyataan kepemilikan STNK bermeterai
- 8. Formulir penerbitan STNK
Terimaksih.
sincerely yours,
sochib
Rabu, Agustus 23, 2017
Daun Bopong, asal muasal nama Dusun Bopongan diambil
Dan benar, mencari daun ini di sekitaran tempat tinggal saya di Bopongan (masuk dalam wilayah Bangunharjo, Sewon, Bantul) ini ternyata tidak sulit, daun itu saya ambil dari sawah di depan rumah. Tumbuh begitu saja, di sela-sela tanaman padi yang habis dipanen. Barangkali tanahnya masih menyimpan akar atau bibitnya sehingga akan segera tumbuh kalau keadaan memungkinkan.
Kingdom : Plantae
Clade :Angiosperms
Clade : Monocots
Order :Alismatales
Family :Alismataceae
Genus : Limnocharis
Species: L. flava
Demikian sekilas tentang tumbuhan bopong yang menjadi inspirasi nama dari dusun Bopongan.
sincerely yours,
sochib
Jumat, Juni 09, 2017
Cara Menakar Beras Zakat Fitrah dengan Gelas
Demikian semoga bisa membantu,
sincerely yours,
sochib
Kamis, Juni 08, 2017
Logika Sederhana tentang SDM, SDA dan Keprihatinan Masa Depan Indonesia
Oh ya. Saya adalah typical anak IPA itu. Anak yang kuper, kurang pergaulan, dimana hari-harinya hanya bergelut dengan ilmu ilmu fisik saat anak sosial sebayanya sudah memikirkan kehidupan dengan serius. Saya merasakan sendiri bagaimana berkutat dengan pelajaran matematika - fisika, hingga limit kemampuan otak. Bahwa semangat menguasai ilmu itu, terkendala kemampuan mencerna di otak saya yang terbatas. Yang saya maksud terbatas disini adalah keterbatasan secara fisik. Dalam dunia komputer katakanlah hardwarenya bukan software. Organ otaknya, Bro!. (Ini mungkin perlu penjelasan khusus!) Dan akibat waktu yang habis digunakan untuk bergelut dengan ilmu-ilmu fisik membuat anak eksakta terlambat memahami hal lainnya. Keterlambatan anak eksakta dalam memahami dunia sosial membuatnya juga rentan terhadap masalah kejiwaan. Haha, tragis! (#curcol)
Walau begitu, secara emosional, saya masih punya keinginan ilmu-ilmu eksakta bisa dikuasai oleh banyak generasi bangsa ini. Bukan hanya sekedar tahu konsep secara garis besar, tapi juga bisa berkreasi dan berinovasi dengan ilmu itu. Dan bukan hanya satu dua orang seperti selama ini terlihat, tetapi menjadi ilmu yang membudaya di masyarakat Indonesia. Semakin banyak masyarakat yang menguasainya, diharapkan semakin banyak bermunculan ahli-ahli yang bisa berperan dalam iptek mutakhir dunia.
Mengapa perlu menguasai ilmu ilmu eksakta menurut saya adalah karena ilmu ini merupakan dasar untuk memahami iptek itu sendiri. Ilmu Matematika misalnya, Seperti halnya ilmu bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan, ilmu matematika bisa dikatakan merupakan bahasa tersendiri untuk berkomunikasi dalam memahami teknologi. Tentu saja bukan sekedar bahasa matematika tingkat dasar pipalanda (ping para lan sudo dalam bahasa indonesia berarti : perkalian, pembagian, penjumlahan dan pengurangan), tetapi matematika tingkat lanjut. Metode pencuplikan sinyal digital generasi pertama, kemudian GSM, HSDPA, hingga generasi keempat (4G) LTE tentu tak akan bisa dipahami jika tidak mengerti matematika yang membahas tentang transformasi fourier. Listrik juga tidak akan gampang dikalkulasi jika tidak melibatkan bilangan imaginer i, yakni akar dari bilangan negatif 1 (√-1). Bilangan Imaginer, Bro. hanya ada di Imaginasi!
Melihat perkembangan Indonesia akhir-akhir ini, saya khawatir Indonesia akan terus menurun daya saingnya di kancah dunia. Jangankan bersaing, sekedar mengikuti saja tidak bisa. Generasi kita tidak dibudayakan belajar Iptek, tapi malah belajar hal lain yang juga banyak menyita waktu dan energi. Pelajaran hafalan misalnya, walaupun hebat dan mengagumkan, tetapi itu saya pikir tidak bisa digunakan untuk memahami iptek, malah kadang memusuhinya. Hadeh.
Ontran-ontran yang terjadi di Indonesia sekarang ini menurut kacamata saya sebagai anak eksakta, adalah karena perebutan kekuasaan mengatur Sumber Daya Alam yang semakin lama semakin berkurang. Bangsa Indoneisa hanya "njagakke" kekayaan alamnya untuk bertahan hidup. Karena tidak bisa menguasai IPtek, kita tidak bisa memproduksi barang barang hasil iptek seperti halnya negara maju. Semua barang iptek di Indonesia ini diimpor dari negara lain. Jangankan hape, ibaratnya, jarum jahit untuk menjahit pakaian sendiri yang robekpun bangsa indonesia tidak bisa membuatnya. How sadly.
Untuk mendapatkan barang-barang iptek tersebut, pertukarannya juga tidak sebanding. Para petani misal, untuk membeli hape terbaru dari Korsel, harus menanam padi di lahan yang luas dengan waktu yang lama. Dan keuntungan dari panen itu mungkin hanya bisa dibelikan beberapa buah hape seri baru yang di Korsel sana mungkin dalam satu hari bisa diproduksi ribuan. Dìlihat dari waktu dan tenaga, sangat tidak sebanding, bukan? Belum bidang otomotif, perikanan, peternakan, dan di segala bidang indonesia jauh tertinggal.
Dan energi bangsa yang terus tersita dalam perebutan kekuasaan politik, serta utang negara yang terus menumpuk. Tidak menutup kemungkinan Indonesia akan berkecamuk perang saudara memperebutkan kekuasaan dengan kekerasan seperti terjadi di beberapa negara di Timur Tengah sekarang ini.
Tulisan ini mungkin tidak memberi solusi apa-apa, tapi paling tidak saya harap bisa memberi kesadaran bertapa kita bener-bener jauh tertinggal dan semakin tertinggal jika budaya iptek yang ada masih tetap seperti sekarang.
Tulisan ini ditulis oleh saya yang bukan ahli bahasa, tetapi saya harap ide yang ada akan tersampaikan.
Sincerely yours,
sochib
Jumat, April 14, 2017
Catatan Ibadah Umroh III (habis)
Banyak sekali askar yang ditugaskan untuk mengatur jemaah di Masjidil Haram ini. Di setiap sudut, setiap pintu, ditempatkan askar. Juga ada askar wanita. Mereka dikenali dengan pakaian dan bercadar hitam. Biasanya mereka mengawasi bila ada jemaah perempuan yang salah tempat di area laki-laki, mereka akan menunjukkan dimana seharusnya jamaah wanita sholat.
Setelah beberapa putaran, aku keluar dari lingkaran thowaf dan naik ke lantai 2. Sebelumnya aku sempat mengambil foto kertas ucapan berlatar belakang Kakbah untuk istri dan kedua anakku.
Dari putaran paling luar aku terus merangsek masuk. Caranya ikut berjalan berputar bersama aliran thowaf tapi ketika ada celah yang bisa lebih mendekat Kakbah aku masuk ke sela itu, lama lama aku sampai di dekat Hijir Ismail. Area ini dibatasi tembok marmer melengkung setinggi sekitar 150 cm, tidak kelihatan dari jauh karena selalu tertutup jemaah. Sayang sekali, area Hijir Ismail saat itu sedang dibersihkan dan dipel, pintu ditutup. Agak lama kutunggu belum juga dibuka Akhirnya aku ikut putaran thowaf memutar lagi untuk mendekati Kakbah. Terus mencari celah untuk bisa mendekati Hajar Aswad. Di dekat pojok Yamani, aku sudah begitu dekat dengan kakbah dan tanganku berhasil menyentuh Kakbah. Gak bisa lama, karena terus didesak desak dari segala arah. Btw, di pojok Yamani ini - Pojok sebelum Hajar Aswad dalam arah putaran thowaf - jangan coba-coba untuk menciumnya. akan diteriaki oleh askar: “Haram! Haram!,” gak boleh! Karena yang dicontohkan rosul untuk dicium hanya Hajar Aswad.
Dari pojok Yamani, kuberusaha untuk terus mepet dan melangkah mengikuti arus thowaf. Sampai di dekat pojok Hajar Aswad, kulihat jemaah benar benar padat. Berdempet-dempet tak ada celah sedikitpun. Bahkan untuk keluar dari kerumunanpun rasanya susah. “Waduh. Kayaknya gak mungkin deh badan sekecil ini bisa berebut tempat dengan banyak jemaah untuk mencium Hajar Aswad”. Seketika kulihat ada orang hitam besar keluar dari kerumunan dengan pakaian ihrom bagian atas terlepas. Keringat membasahi tubuhnya seperti habis mandi. Ini dia!, bisa-bisa aku akan mandi keringat juga kalau memaksakan diri mencium Hajar Aswad. Mandi keringat sendiri, sih, gak masalah. Tapi ini jelas, aku juga akan mandi keringat orang lain!. Hadeh.. melihat keadaan yang berjubal jubal tanpa sela, akhirnya aku mundur teratur, keluar dari putaran thowaf. Biarlah. Ini bukan cerita tentang seorang manusia yang entah bagaimana (somehow) akhirnya bisa mencium Hajar Aswad, ini tentang seorang manusia melihat realitas. Yah, setidaknya aku pernah berusaha mendekatinya. Bila orang lain bercerita tentang suksesnya mencium Hajar Aswad dan sholat di Hijir Ismail. Kesuksesan bagiku saat itu adalah cukup bisa menyentuh Kakbah, Baitullah, Rumah Allah. Dibanding luas Bumi, Kakbah ini merupakan satu titik kecil dimana umat Islam dari seluruh dunia menghadapkan wajahnya waktu sholat, dan aku berhasil menyentuhnya! Spectacular!
Habis Maghrib, kami pulang ke hotel untuk mengambil makan malam.
Isya, aku masih bareng Pak Sarwan menuju Masjdil Haram. ‘Bagaimana kalau kita masuk masjid naik escalator lagi saja, Pak?’ Usulku. Kami menuju ruangan escalator.
Ruangan escalator ini kami ketahui waktu turun dari lantai 2 ke bawah beberapa waktu sebelumnya. Baru kali ini kami naik escalator dari bawah menuju ke atas. Di escalator, kami penasaran untuk terus naik, kira kira sampai dimana escalator ini akan mengantar jemaah. Ternyata kami sampai di area yang paling atas dari Masjidil Haram ini. Area yang luas beratapkan langit. “Wah, disini dipakai sholat juga ya, Pak”. Ucapku. “Tolong foto saya ya, Pak”,
Lantai atas ini di bagian sisi yang lain masih ditutup dan dipagari tinggi. Sepertinya daerah tersebut yang masih dalam proses perluasan Masjidil Haram. Alat alat berat seperti crane yang terlihat dari kejauhan bekerja di area itu
Thowaf wadak merupakan thowaf perpisahan yang wajib dilakukan oleh jemaah Haji. Bagi jamaah Umroh, thowaf ini sebenarnya tidak wajib. Tapi diutamakan. Alangkah afdhalnya tentu saja, bila kita berpamitan sebelum pergi meninggalkan sesuatu yang kita datangi.
Senin, Maret 27, 2017
Catatan Ibadah Umroh II (di Mekkah)
Kami sampai ke Masjid Abyar Ali masih di siang yang terik, menyilaukan mata. Rekomendasi dari biro untuk membawa kacamata hitam mungkin untuk menghadapi cahaya Matahari seperti ini. Masjidnya ramai, di halaman banyak terparkir bus-bus berisi jemaah dari berbagai negara. Semua yang datang ke masjid ini terlihat sudah memakai pakaian ihrom. Sepertinya memang semua yang datang ke masjid ini dalam rangka keperluan yang sama, mengambil miqot untuk ibadah Umroh. Kami yang sudah siap dengan pakaian ihrom langsung sholat tahiyatul masjid dan sholat sunnat ihrom dua rekaat. Sesudah itu langsung berkumpul lagi di dalam bus untuk segera berangkat ke kota Mekkah.
Persis ketika akan berangkat meninggalkan area masjid ini, kami dipimpin oleh Muthowif melafalkan niat Umroh bersama-sama. “Labbaik Allahuma umrotan”. Sejak itu, kami semua berada dalam keadaan ihrom. Rukun Umroh pertama sudah dimulai. Larangan-larangan dalam ihrom mulai berlaku. Labbaik allahumma labbaik, aku datang memenuhi panggilanmu ya Allah.
Jaman dulu jaman nabi, kata Muthowif, perjalanan memakai unta dari Madinah menuju Mekkah memakan waktu selama 13 hari 13 malam. Banyak hal bisa terjadi selama waktu itu. Karena itulah banyak larangan saat ihrom jaman dulu yang terasa janggal jika diterapkan sekarang. Larangan menikah dan menikahkan misalnya, pasti aneh akan terjadi pernikahan dalam perjalanan yang hanya makan waktu 5 jam dan kebanyakan dipakai tidur di bus. Larangan berburu binatang juga aneh. Binatang apa yang mau diburu? Juga buat apa? Larangan yang perlu diwaspadai di jaman sekarang adalah kalau kelupaan masih memakai CD (Celana Dalam, kain berjahit) atau kalau tidak sengaja mencabut bulu badan. Entah gara gara ‘ngupil’ atau garuk garuk karena gatal. Salah salah bisa terkena Dam atau Denda. Dan dendanya tidak main main, Satu ekor kambing atau kurang lebih 2 juta rupiah.
Di dalam bus, aku duduk di deretan kursi paling depan. Bisa ku pilih, karena saat masuk ke bus waktu berangkat tadi masuknya paling pertama dibanding jemaah lain. Pandangan lebih luas ke kiri-kanan. Saat ada sesuatu yang menarik, aku bisa memotret baik dari kamera hape maupun kamera saku yang kubawa. Muthowif menjelaskan kembali tentang manasik Umroh. Di perjalanan menuju Baitullah, kami disunatkan untuk banyak-banyak bertalbiyah. Labbaik Allahumma Labbaik.
Setelah bertemu sebuah masjid di pinggir jalan, kami berhenti untuk melaksanakan sholat Maghrib dan sholat Isyak yang dijamak, juga ke toilet bagi yang ingin buang air kecil. Kota Mekkah masih jauh, kira kira 3,5 jam perjalanan lagi. Rencana setelah sampai di kota Mekkah nanti, jemaah langsung menuju Masjidil Haram untuk bersama sama melaksanakan thowaf, yaitu memutari Ka'bah sebanyak tujuh kali, dilanjutkan sai. Karenanya, jemaah dianjurkan untuk bisa istirahat selama dalam perjalanan.
Kuperhatikan kota Mekkah ini berbeda sekali dengan kota Madinah yang luas dan tenang. Lalu lintas disini lebih padat, Banyak taksi berseliweran, kontur jalannya tidak rata, naik turun di daerah sekitar Masjidil Haram.
Hotel yang aku tenpati untuk menginap di Mekkah ini namanya hotel Azka Al Safa. Bersama 3 orang teman yang sama seperti di hotel Concorde Madinah, kami mendapat kamar di lantai 10 ruang nomer 1010. Berbeda dengan hotel-hotel yang ada di Madinah, lantai hotel di sini bisa lebih dari 14 tingkat. Terlihat tinggi menjulang. Transportasi antar lantai menggunakan lift yang berjajar kiri kanan hingga 10 buah. Yang membuat hotel ini tampak lebih berkelas dibanding hotel di Madinah yang aku tempati sebelumnya adalah sistem air di kamar mandinya yang memancar lebih kuat. Shower air lebih besar, dan penghisap udara di atas kamar mandi yang berfungsi bagus. Fasilitas dan ruangan juga terlihat lebih 'lux'. Setelah meletakkan tas bawaan dalam kamar, kami segera turun kembali ke lobby untuk bareng bareng menuju Masjidil Haram. Meskipun capek dari perjalanan jauh, jangan sampai mandi menyegarkan badan di kamar mandi hotel, jemaah masih dalam keadaan ihrom, larangan memakai wangi wangian terus berlaku. (sabun mandi/pasta gigi mengandung wangi wangian).
Inilah saat yang dinanti nanti. Sebentar lagi kami semua mengunjungi Ka'bah, Baitullah, tempat yang disucikan ummat Islam di seluruh dunia.
Di depan pintu gerbang, kami berhenti sebentar. muthowif memimpin doa masuk Masjidil Haram, Allahumma Antas salam, wa minKas salam, wa ilaiKa ya'udus salam. Kami semua menirukan dengan khidmat, kami datang kesini berharap bisa menyelami nilai nilai spiritual dari millah Nabi Ibrahim ini. Aku mencoba menghayati kata-kata Muthowif dan semoga tidak ada pikiran negatif yang membuat rusak ibadahku sendiri. Perlahan namun pasti, kami berjalan menuju Ka'bah. Air Mata ingin tumpah di momen ini. Tak terkatakan. Muthowif memandu dari arah mana seharusnya kami masuk. Dengan menggunakan lift, kami turun ke pelataran yang paling bawah. Pelataran dimana Ka'bah terletak. Melihat Ka'bah pertama kali merupakan pengalaman personal, berbeda bagi tiap tiap orang. Akhirnya pada suatu masa dalam hidupku ini, aku diberi kesempatan juga mengunjungi Baitullah. Satu tempat yang sejak kecil selalu aku dengar ceritanya. Apalah aku? Aku berharap pikiranku yang tak pernah berhenti berputar ini selalu memikirkan sesuatu yang positif. Aku mencintai semua manusia yang berada disini, aku bagian dari mereka, aku tidak ingin menyepelekan apapun yang ada di hadapanku ini. Kuputari Ka'bah dengan khusuk, seperti semua orang melakukannya disini. Bismillahi allahu akbar. Kulambaikan tanganku.
Selesai thowaf tujuh putaran, kami sholat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Satu tempat dimana dulu nabi Ibrahim berdiri saat membangun Ka'bah. Seperti dalam manasik, dua surat yang dibaca adalah surat Al Kafirun dan Al Ikhlas. Setelah selesai sholat kami masing-masing berdoa, kubaca lagi kertas catatan doa dari istri, kucoba membacanya dengan khusuk. Juga titipan doa dari teman-teman kupanjatkan di depan Baitullah ini.
Setelah itu, kami minum air zam-zam yang tersedia di area thowaf dengan tak lupa berdoa seperti tuntunan manasik. Air zam-zam dimasukkan dalam galon-galon besar berjajar seperti yang ada di masjid Madinah. Tinggal menuang ke dalam gelas plastik yang tersedia dan meminumnya. Bayanganku dulu, prosesi ini lebih rumit dengan mengambil air dari sumur zam-zam.
Kemudian kami melanjutkan rukun Umroh berikutnya, yaitu sai, berjalan dan lari-lari kecil antara bukit Sofa dan Marwa. Malam semakin dingin, doa doa saat sai dipimpin langsung oleh Muthowif, jemaah tinggal menirukan. Pada putaran-putaran akhir pikiranku sedikit terganggu dengan kondisi ibu. Apakah ibu masih kuat menjalankan ibadah ini? Bagaimana kalau blio terus memaksakan diri sementara fisik sebenarnya tidak kuat?. Ibadah ini disamping selalu berdzikir dan berdoa, juga perlu kekuatan fisik.
Waktu sudah menjelang sholat isyak, Sampai di Health Center, ternyata kami masih cari-carian dengan ustadz Suyanto. Walah, dimana sih, Pak? Saat Ketemu dokter yang sama, dokter tersebut masih tetap meminta passport. Tidak ada tindakan lain kalau tidak ada passport. Waduh! Pak Sarwan kuminta menunggu di loby Health Center, sementara aku pamitan sholat isya berjamaah dulu. Selepas sholat isya, kami baru bertemu ustadz Suyanto membawa passportnya. Sayang sekali, dokter jaga sudah ganti. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang sama sama minim. Dia bertanya sudah berapa hari lukanya? Pasien ini Lebih baik dirujuk ke rumah sakit King Abdul Aziz., Jeddah. Waduh! Entah bagaimana harus menjelaskan bahwa itu luka baru dan darah masih terus mengalir dalam bahasa arab. Gak papa, gak papa, ustadz Suyanto mencoba menenangkan. Pak Sarwan tampak masih kurang puas, ingin rasanya bertemu ustadz Razak yang bisa berkomunikasi dalam bahasa Arab sebagai penghubung. Akhirnya kami balik ke hotel.
Btw, Pak Sarwan ini kakinya bisa pecah-pecah dan katanya terasa perih. Pada bubaran sholat yang padat, berjalan harus hati hati, jika tersandung-sandung kaki jemaah lain, rasanya semakin perih. Kurang tahu apa sebabnya. Entah karena cuaca yang tidak cocok, entah karena tidak biasa berjalan kaki, entah faktor usia. Untuk itu perlu bagi jemaah Umroh mempersiapkan keadaan seperti itu dengan membawa obat obatan dari tanah air.
Selepas subuh pagi itu, kami langsung pulang ke hotel. Ada hal lain yang aku perhatikan saat bubaran shalat fardhu, khususnya subuh. Yakni adanya pedagang pedagang yang menggelar dagangannya dengan lapak kain yang digelar di tengah jalan. Cuma ternyata pedagang ini harus kucing kucingan dengan petugas polisi yang patroli. Jika ada patroli polisi, mereka langsung meraup dagangan dan lari menghindar.
Kami makan pagi dan bersiap untuk city tour kota Mekkah. Ngomong-ngomong tentang makan di hotel, disini modelnya adalah prasmanan alias jemaah mengambil sendiri menu yang tersedia di meja. Menunya bermacam macam. Biasanya lengkap ada sayur, lauk, buah, juga kue kue.
Sama-sama bentuk menunya, tapi rasanya kadang beda. Jika melihat mie kuah, jangan berharap rasanya kaya mie jawa. Lebih baik icipin sedikit makanannya, kalau cocok baru ambil secukupnya. Ada banyak kulihat piring dengan mie kuah masih tersisa di meja karena ternyata rasanya tidak seperti yang diharapkan. Agak manis gimana gitu, katanya. Soalnya aku sendiri belum mencicipi. Hahaha.
Yang agak beda jika dibandingkan makan prasmanan di hotel Madinah adalah ketersediaan piring/gelas. Di hotel Madinah banyak tersedia gelas plastik dan piring kertas disamping piring/gelas biasa sehingga jemaah tidak kekurangan. Di hotel Mekkah yang kutempati ini gelas dan piring yang tersedia hanyalah gelas/piring kaca, dan jumlahnya terbatas. Ini membuat jemaah sering kekurangan gelas/piring. Jika jemaah yang kehabisan persediaan gelas/pring hanya menunggu saja sampai gelas dicuci oleh karyawan restaurant, tentu akan lama menunggu tak tentu waktunya. Mending ambil sendiri piring atau gelas yang sudah terpakai (cari yang tidak terlalu kotor) , terus cuci di wastafel di ruang toilet pojok. Ini lebih cepat dan nyaman.
Bus besar menanti di pinggir jalan. Berjajar jajar. Pagi itu sepertinya jemaah dari biro perjalanan lain juga punya agenda yang sama. City tour kota Mekkah. Tempat tempat yang dikunjungi adalah tempat-tempat yang digunakan dalam ibadah haji. Yaitu tempat wukuf di Arafah, bermalam di Mina. Juga tempat melempar jumroh. Tempat ini penting diketahui bagi jemaah Umroh terutama yang belum pernah beribadah haji. Bila suatu saat bisa menjalankan ibadah haji, tentu bisa mendapatkan gambaran lebih jelas. Dan tujuan terakhir dari city tour ini adalah masjid Aisyah di tan'im untuk mengambil miqot.



