Tampilkan postingan dengan label Aboutme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aboutme. Tampilkan semua postingan

Senin, Maret 20, 2017

Catatan Ibadah Umroh I (di Madinah)

Kutulis perjalanan  ini sehingga tidak hilang ditelan lupa. Catatan teknis, pengalaman yang dirasa, juga kejadian-kejadian yang mungkin bisa menjadi pelajaran atau paling tidak, menjadi kenangan bagiku sendiri suatu saat nanti. Sejak awal bagaimanapun aku harus bisa memaknai perjalanan Umroh ini dengan sebaik-baiknya. Aku tidak ingin mengecewakan ibu yang mempunyai keinginan ke tanah suci bersama anak-anaknya di suatu masa. Alkisah pada saat menunaikan ibadah haji (tahun 2004), seperti selalu diceritakannya, ibu 'ngendika' bagaimana dia berdoa supaya suatu saat bisa berangkat lagi kelak bersama anak-anaknya, blio merasa doa itu dikabulkan Allah. Sempat kubilang bagaimana kalau aku tidak usah berangkat saja, aku merasa belum mampu. Tapi buru buru ibu menyela 'Eh, itu namanya g bersyukur, bla bla bla.. ', dan berdebat dengan ibu sepertinya bukan pilihan bijak. Ibu sangat yakin dengan apa yang dipercayainya.

Akhirnya aku berharap ini bukan hanya sekedar jalan jalan kosong, wisata religi atau apa. Ini adalah sebuah perjalanan SPIRITUAL.

Bertiga kami - aku, ibu dan kakak perempuanku - berangkat menggunakan biro haji dan umroh Hajar Aswad yang beralamat di Solo. Berangkat bersama rombongan yang jumlahnya sekitar 30 orang. Maskapai penerbangan yang digunakan adalah Garuda Indonesia, dengan rute Solo-Aceh-Jeddah. Di Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh, pesawat berhenti sebentar untuk mengisi bahan bakar.  Dan ternyata ada tambahan penumpang juga dari Biro perjalanan umroh lain. Mungkin daerah Aceh sendiri, atau Medan dan sekitarnya.

Persiapan

Kutulis paragraf ini untuk ucapan terimakasih pada istriku, Windadari Murni, yang mempersiapkan semua barang bekal untuk keperluan di tanah suci. Daftar barang bawaan ditulis dan tertata rapi, sesuai rekomendasi barang bawaan dari biro umroh. Aku sama sekali tidak memikirkan lagi barang yang harus dibawa. Mulai dari obat-obatan, pakaian ganti, masker, pakaian dalam telah dimasukkan dalam koper. Tinggal bawa. Tidak perlu packing apa apa lagi.

Foto sebelum berangkat di depan Masjid Bandara Adi Soemarmo, Solo. Selasa, 28 Februari 2017

Bandara Adi Soemarmo
Pemeriksaan barang bawaan di Bandara Adi Soemarmo Solo berlapis 3, tas bawaan harus melewati alat scan untuk memastikan tidak ada barang terlarang yang dibawa. Bagi yang baru pertama kali terbang ke luar negeri lewat Bandara Adi Soemarmo Solo, hal ini bisa memicu urat tawa, Walah, Periksa terus, kapan terbangnya?   Gunting ternyata tidak boleh dibawa di tas cangking, alasannya adalah benda tersebut dianggap sebagai senjata tajam. Logam akan terdeteksi walau di dalam tas. Terpaksalah aku harus merelakan gunting baru yang rencananya untuk tahallul (potong rambut sebagai tanda telah selesainya rukun umroh) itu. Salah saya juga, sih. Harusnya ditaruh di koper bagasi.  Dan ternyata banyak juga yang tidak begitu memperhatikan aturan yang ada, hal ini mungkin perlu diperhatikan bagi biro perjalanan ini untuk tidak lupa memperingatkan lagi kepada para jamaah tentang barang bawaannya.  Jangan sampai terjadi barang berharga disita pihak bandara hanya gara-gara tidak tahu aturan yang berlaku. Sebotol madu ukuran 600 ml punya ibu yang baru diminum satu sendok ikut disita petugas bandara. "Iya, tapi digunakan yang baik ya.. Jangan dibuang, kasih ke orang yang memerlukan". Cerita ibu mewanti-wanti petugas bandara.

Di pintu pesawat, boarding pass diperiksa untuk mengetahui dimana seharusnya duduk.  Ada dua pintu pesawat  yang dibuka, Untuk nomer nomer akhir masuknya lebih dekat dari pintu tengah. Kalau mau masuk dari pintu depan sih, bisa, tapi anda akan melewati jalan sempit di antara kursi kursi pesawat lebih panjang.

Pesawat take off jam 9 persis sesuai jadwal.

Spiritual?

Salah satu pengalaman yang bisa dikategorikan pengalaman spiritual bagiku adalah saat naik  pesawat terbang pertama kali. Aku sama sekali belum pernah merasakan naik pesawat  terbang. Kalau dengar cerita dari orang sih, sering. Tapi merasakan sendiri seperti apa, BELUM PERNAH.

Kuperhatikan betul bagaimana pesawat take off. Pertama, pesawat mengambil posisi di pangkal landasan dan kemudian mulai bergerak maju dan melaju semakin kencang hingga sampai pada kecepatan tertentu sayap pesawat mampu mengangkat badan besi pesawat yang berisi ratusan manusia ke udara. Take off terasa mulus hingga tak terasa semua badan pesawat sudah terbang mengangkasa.

Aku pernah mendengar sebelumnya bahwa jika pesawat melewati kumpulan awan, akan terasa goncangan seperti naik mobil melewati jalanan berlobang. Benar memang, pesawat bergoncang goncang ketika melewati awan, yang tidak masuk di pikiranku saat mendengar cerita itu adalah bahwa keadaan seperti itu ternyata bisa berlangsung lama. Lebih dari 10 menit pesawat  masih bunyi bergeruduk. Kupikir, Emang Seberapa panjangnya awan itu? dengan kecepatan pesawat yang hampir 1000 km/jam, kenapa pesawat tidak segera tenang kembali setelah melewati awan? apakah yang namanya awan memang panjang?  Alhasil keluar pikiranku yang macam macam, keringat dingin di telapak tanganku keluar. Terbayang di benakku pesawat jatuh karena turbulance yang membawa banyak penumpang beberapa waktu lalu. Jangan-jangan itu akan terjadi lagi kali ini. Mungkinkah ini akhir hidupku? Pesawat menghujam ke laut dan tidak ditemukan? Mungkin aku akan mati karena gelagepan di kedalaman air laut atau tubuhku hancur berkeping-keping bersama badan pesawat  ini. Terbayang muncul berita di detik.com tentang pesawat jatuh yang membawa ratusan penumpang jamaah umroh. Dan daftar nama penumpang yang naas itu salah satunya adalah aku. Nama : Sochib Manan Ammar, alamat : Yogyakarta. Hadeh. Wajah tanpa kepanikan pramugara atau pramugari tidak bisa menenangkanku, barangkali mereka memang dilatih untuk bersikap tenang dalam keadaan panik. Weleh, hebat betul mereka!. Dan pikiran-pikiran itu sukses membuatku tidak bisa tidur sampai ke tempat tujuan. Bagiku ini benar benar spiritual, karena aku harus siap meninggalkan dunia ini, dengan pasrah. Tak ada yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan hidupku selain pasrah dengan apa yang bakal terjadi dengan pesawat yang kutumpangi. Naik pesawat  terbang ini bener-bener mengingatkanku akan kematian yang begitu dekat.

Tubuhku yang tak terbiasa naik pesawat juga punya masalah sendiri. Kepala pusing, jet lag, dan suara gemuruh mesin terasa mengganggu. Terlebih saat pesawat mau landing, daerah sekitar telinga rasanya mau pecah. Bagiku perjalanan naik pesawat ke tanah suci ini juga perjuangan ibadah itu sendiri. 

Jeddah
Alhamdulillah, akhirnya kami mendarat juga di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Sore hari sekira pukul 18.00 Waktu Arab Saudi. Tapi Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 22.00 WIB. Belum aku atur ke waktu arab. (Beda waktu antara Jeddah dan Solo adalah 4 jam), Kubayangkan, saat ini anak-anakku sudah pada tidur pulas. Dari jam 9.00 WIB pagi tadi, sampai pukul 22.00 WIB, berarti aku telah berada di dalam pesawat selama 13 jam-an.

Udara segar, pusing di kepalaku mulai berkurang. Selepas ke toilet bandara, kami semua mulai antri ke bagian imigrasi. Beberapa teman jamaah terlihat mengatur hape untuk bisa menghubungi keluarganya di tanah air. Aku sendiri tidak mengaktifkan paket roaming ke luar negeri dari operator yang selama ini kupakai. Untuk komunikasi, aku memilih menggunakan koneksi data internet dari operator TRI yaitu dengan membeli paket kuota internet ‘tri ibadah’. Hanya 77 rb untuk 9 hari. Disamping murah, juga gampang mengaktifkannya. Bisa diaktifkan lewat aplikasi Bima Tri yang tersedia di Playstore android.

Dari  Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah, kami harus naik bus menuju kota Madinah. Jarak Jeddah ke Madinah aku check di Maps (Aplikasi Peta dari Google) adalah 400-an km, itu sama dengan jarak Jogja-Bandung. Namun karena jalan di sini lebar dan lurus, sedikit lampu lalu lintas, juga lengang tanpa macet, perjalanan ini bisa ditempuh maksimal 5-6 jam saja. Hari yang menjelang malam dan badan yang sudah lelah selama perjalanan lebih banyak aku isi dengan memejamkan mata berusaha untuk tidur. Walau tidak begitu pulas, tapi lumayan untuk mengembalikan energi yang hilang di pesawat. Dari Bandara Jeddah ini kami mulai dipandu oleh dua orang muthowif (semacam tour guide dalam perjalanan wisata) bernama ustad Razak dan ustadz Rais untuk mendampingi ibadah umroh ini, selain satu orang ustadz dari tanah air.  Ustadz Suyanto.

Sebagai muthowif, Ustad Razak dan Ustadz Rais begitu menjiwai perjalanan umroh ini. Masuk ke kota Madinah, kami dibangunkan oleh Ustadz Razak yang memberitahukan bahwa kami sudah mau masuk ke kota nabi. Bus besar ini dilengkapi sound system yang bagus sehingga apa yang dikatakan muthowif bisa terdengar oleh seluruh jamaah. Dengan dipimpin untuk bersalawat badar, kami semua melantunkan baid syair dari kitab Al Barzanzi ‘talangal badru alaina.. ‘, kita memasuki kota yang disucikan, kota Nabi Muhammad, kota Al Haram. Ada rasa haru kami semua yang berasal dari Indonesia setelah menempuh perjalanan jauh akhirnya sampai juga ke kota nabi ini.

Hotel
Tengah malam kami tiba di hotel, hotel yang aku tempati di Madinah bernama Hotel Concorde. Setelah pembagian kamar kami naik lift menuju kamar masing-masing. Aku mendapat kamar di lantai 14, lantai paling tinggi di hotel ini.  Denger-denger kemudian memang hotel-hotel di madinah dibatasi hanya 14 lantai. Supaya tidak lebih tinggi dari menara Masjid Nabawi. (Ini mungkin untuk menjaga supaya masjid Nabawi tidak tersaingi gedung-gedung di sekitarnya yang bisa saja menjadi lebih tinggi dan megah sehingga Masjid menjadi kurang ekslusif)

Aku dikelompokkan bersama 3 teman lain menempati kamar dengan 4 bed, kamar mandinya lumayan bagus, ada air panas, walau aliran air shower tidak begitu deras, tapi lumayan kemericik untuk dipakai mandi. Stop kontak listrik berlobang tiga, tapi tidak masalah untuk charger hapeku. Bagi pengguna Charger hape lama berkaki dua dan bulat, bukan pipih, baiknya perlu antisipasi dengan membawa konverter untuk lubang yang lebih besar.

Waktu sholat subuh masih lama. Di group WA beberapa teman jamaah yang tidak bisa tidur pingin langsung menuju masjid untuk sholat malam sekalian menunggu sholat subuh.  Aku sendiri berusaha untuk istirahat bersama teman sekamar dan mengatur alarm hape menjelang subuh. 

Niat memejamkan mata untuk istirahat di hotel rupanya susah juga, aku bersama salah satu teman kamar akhirnya berinisiatif berangkat duluan ke masjid mendahului 2 teman yang lain. Waktu subuh kira-kira masih kurang 2 jam. Gak papa, lah. Malah bisa jalan jalan dan lihat-lihat masjid nabawi pertama kali. 

Jalanan terang, semua lampu menyala, jalan menuju masjid bisa ditebak dari orang-orang yang juga mau menuju masjid, kami mengikuti saja mereka hingga ke masjid. Hawanya dingin, tapi tidak terlalu. Bisa dilawan dengan pakaian rangkap yang aku kenakan.

Setelah berjalan sekitar 500 m. Kami memasuki Masjid yang besar. Sangat besar. Halaman yang luas. Dan suasana ramai lalu lalang orang yang ke Masjid walau masih malam. Aku masuk melalui pintu 17, aku ingat-ingat nomer itu supaya nanti tidak tersesat. Begitu pesan ustadz pada pembekalan di solo. Dari pintu ini aku bersama Pak Sarwan kumar, teman satu kamarku itu, menyusuri ruangan masjid dengan tiang tiang penyangga yang besar dan megah. Ada area yang memang dikhususkan untuk jalan keluar masuk jamaah dengan diletakkan karpet karet tebal memanjang, sehingga kami tidak terasa dingin menginjak lantai masjid di malam hari. Di beberapa titik sekitar area itu diletakkan galon galon besar berjajar berisi air zam-zam. Pak Sarwan kuminta mengambil gambarku saat mengambil air zam zam.

.


Galon Air Zam-Zam di Masjid Nabawi
Kami yang tampak baru pertama melihat-lihat ruangan masjid rupanya diperhatikan oleh petugas kebersihan masjid. Dari jauh dia memberitahu dimana arah tengah masjid. Ternyata petugas kebersihan ini juga orang indonesia, karena dia menggunakan Bahasa Indonesia. Haa, kami tersenyum. Akhirnya kami mencari tempat daerah tengah masjid untuk sholat sunnah dan aku gunakan juga untuk membaca Alquran yang kubawa di tas cangklong. Kemana-mana kami dari rombongan Biro Hajar Aswad membawa tas cangklong kecil yang bisa kami isi dengan perlengkapan pribadi, alat ibadah bahkan tempat sandal supaya kami tidak kebingungan mencari letak sandal waktu pulang.

Adzan bergema. Beberapa jamaah tampak merekam moment ini dengan video di hape. Mengabadikan suasana masjid saat terdengar adzan. Semula kukira adzan itu adzan subuh, ternyata satu jam menjelang masuk fajar, adzan sudah dikumandangkan. Mungkin panggilan untuk sholat malam.  Tepat saat masuk subuh, adzan dikumandangkan lagi. Jamaah sholat subuh semakin banyak berdatangan, kuperhatikan banyak juga orang orang berwajah Asia, mungkin Indonesia atau Malaysia. Kelihatan dari pakaian yang dikenakan berupa sarung atau memakai peci. Ada rombongan berjaket dengan tulisan Uzbekistan, juga wajah-wajah India. Kamipun akhirnya bisa sholat subuh di Masjid Nabawi bersama orang dari berbagai penjuru ini.

Hari Rabu, setelah makan, Kami semua dijadwalkan untuk ke Raudhoh dan ziarah ke makam Baki. Raudhoh adalah suatu tempat di Masjid Nabawi di seputaran mimbar dan rumah Nabi. Ini adalah tempat yang mustajabah untuk berdoa. Tempat ini di tidak luas. Ditandai dengan karpet warna hijau. Banyak orang antri untuk bisa sholat dan berdoa di tempat ini. Aku bersama jamaah ikut antrean untuk bisa masuk ke Raudhoh ini. Antrean dibagi dalam blok blok antrean, tiap blok dibatasi oleh kain. Saat itu panjang antrean yang ada adalah 3 Blok. Setelah menunggu antrian kira-kira satu jam-an akhirnya aku bisa masuk ke Raudhoh. Bagaimanapun perjuangan antrian itu membuat haru diriku betapa akhirnya aku juga bisa memanjatkan doa-doaku disini. Catatan doa dari istri kubaca. Juga titipan doa dari teman teman coba kulafalkan dengan kata kata. Ini masalah amanat, titipan. Terkabul sesuai doa apa tidak urusan Tuhan. Manusia merencanakan, Gusti Allah yang menentukan.

Aku sendiri tidak tahu apa yang harus kupinta lagi kepada Tuhan. Yang jelas, Segala pengharapan yang baik untuk anak-anak maupun keluargaku seakan sudah masuk ke dalam aliran darahku, denyut nadiku, tarikan nafasku. Di ayunan langkahku,  di setiap mimpi-mimpiku. Cukuplah doa sapu jagad : “Rabbana atina fid dunya hasanah, wafil akhiroti hasanah, waqina adzabannar”

Setelah sukses sholat dan berdoa di Raudhoh, rencana rombongan akan ziarah ke makam Baki, tapi sayang pintu sudah tutup. Kami semua dipimpin muthowif cukup mengucapkan salam dan berdoa dari luar makam kepada  para semua ahlil qubur yang dimakamkan di sana. “Allahumma ghfirlahum warhamhum wa’afihim wa’fuanhum”

Waktu sholat asar masih lama, aku kembali ke hotel. Tidur lumayan pulas, mengembalikan energi tubuh yang hilang. Teman teman kamar juga tampak pulas. Angler. Ini kali pertama dalam perjalanan ini semua bisa istirahat dengan baik. 

Aku terbangun duluan saat teman teman sekamar kulihat masih pulas. Tubuh lumayan segar, pusing di kepalaku tidak terasa. Baiklah, kali ini aku ingin ke masjid sendirian saja. Melihat suasana sore Masjid Nabawi dan menapakkan langkahku sesuka hati. Ketiga teman kamar kubangunkan dan kupamiti setelah selesai mandi dan siap berangkat. Sampai di masjid aku mencari tempat yang agak longgar di sayap kanan. Di sini banyak para jemaah yang membuat kelompok duduk melingkar untuk membaca Alquran bersama. Ada anak-anak, ada dewasa. Mereka membawa semacam buku catatan seperti halnya anak TPA kalau di Indonesia. Mungkin itu catatan progress belajarnya.

Aku duduk sendiri. Sambil menunggu adzan ashar tiba, kugunakan untuk membaca baca Alquran yang kubawa.

Selepas sholat ashar, aku bergerak lebih ke tengah untuk merasakan suasana Masjid. Saat melewati satu kelompok yang sedang membaca Alquran, seorang ustadznya dengan bahasa isyarat memintaku untuk bergabung. Oke lah. Aku ingin coba berinteraksi dengan mereka. 

Tertulis di dalam papan kecil di sebelah ustadznya : “Quran teaching for visitor”,  ini adalah pengajaran Alquran bagi para pengunjung masjid. Seorang ustadz secara sukarela mengajari bagaimana membaca Alquran secara fasih sesuai mahrajnya. Waktu itu yang diajarkan adalah surat alFatehah. Ketika kupraktekkan bagaimana bacaan surat al fatehahku, ternyata berkali kali aku masih salah pada waktu mengucapkan kata ‘waladhollin’. Ustadz mengisyaratkan lidah yang harus ditarik ke belakang. Susah juga ternyata. Tapi di bacaan ayat ayat sebelumnya, Ustadz sudah berkomentar “masya Allah - masya allah”, satu penilaian kalau makhraj dari lidah jawaku ini sudah bagus.

Kuambil secara candid foto sang ustadz :

Quran teaching for visitor


Aku pulang dari masjid setelah sebelumnya mengisi air zam zam ke dalam botol pesanan ibu.

Rabu malam, selepas sholat isya dan makan malam di hotel.  ada pembekalan dari ustadz Suyanto. Berisi hal hal yang perlu diketahui untuk kegiatan hari besuk. Beberapa tidak bisa hadir karena sudah kecapekan dan lumayan larut sehabis makan malam. Pada intinya besuk acaranya adalah city tour di kota Madinah, beberapa wilayah yang dikunjungi agak rawan dengan peminta-minta yang kadang memaksa. Sebaiknya bawa uang secukupnya, surat surat penting tidak usah dibawa tidak apa-apa (bisa saja suratnya malah jatuh). Sedangkan untuk hari Jumat jam 9 koper bawaan harus sudah siap di lobby. Itu adalah hari terakhir kita di Madinah ini. Dan Siap siap untuk Ibadah inti dari perjalanan ini.

Kamis, hari kedua di Madinah, seperti direncanakan, acaranya adalah city tour Madinah. Mengunjungi tempat tempat bersejarah yang ada di kota Madinah. Jamaah diharapkan sudah siap Jam 8 di lobby hotel untuk bersama-sama naik bus besar.

Saat naik bus, Ini kali pertama aku bisa melihat suasana kota madinah di siang hari. Kuperhatikan bagaimana suasananya dibandingkan Yogyakarta. Kulihat banyak gedung gedung besar bertingkat. Kata muthowif itu adalah apartemen. Kebanyakan penduduk di kota ini tinggal di apartemen. Dan di bawah apartemen tersebut sudah dilengkapi dengan supermarket untuk kebutuhan penghuninya. Entah karena masih pagi atau memang jumlah penduduk yang sedikit, tak terlihat keramaian orang di pusat pusat pertokoan seperti di Indonesia. Di pinggir jalan, kadang terlihat mobil berhenti menjajakan sayuran, mungkin sayuran itu didatangkan dari luar kota untuk dipasarkan di kota Madinah ini.

Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Jabal Uhud. Ini adalah gunung tempat berlangsungnya perang dimana kaum muslim kalah perang dengan pasukan quraish. Terbayang Pasukan muslim saat itu mungkin berada di atas gunung itu menguasai medan, dan kemudian mereka turun karena melihat harta lawan yang ditinggal begitu saja. Tidak disangka ternyata hal itu hanya jebakan.  Pasukan Quraish gantian naik menguasai gunung Uhud. Hingga pasukan muslim kocar kacir. Gunung itu seperti ingin menceritakan kisahnya lebih detail, sayang hanya bisa membisu.

photo_2017-03-18_12-00-59.jpg
Penulis berpose dengan latar belakang Jabal Uhud
photo_2017-03-18_12-03-35.jpg
Bersama rombongan Jamaah Hajar Aswad di Jabal Uhud
Selepas kami mengambil gambar dengan latar belakang Jabal Uhud, Muthowif mengajak kami mengunjungi Masjid Quba. Masjid ini merupakan masjid yang spesial, karena Nabi pernah bersabda Barang siapa yang bersuci di rumahnya dan kemudian pergi ke Masjid Quba dan sholat di dalam masjid ini, maka pahalanya seperti pahala umroh. Untuk itu kami semua serombongan dianjurkan oleh muthowif untuk menjaga wudhu dari hotel. Kami melakukan sholat tahiyatul masjid dan juga sholat dhuha di masjid ini.

Masjid Quba ini merupakan salah satu destinasi wajib bagi para peziarah yang ke kota Madinah ini. Bus bus dengan penumpang peziarah berbagai negara banyak parkir di halaman masjid, dan banyak pedagang di sekitar masjid yang menjajakan barangnya. Di sini aku beli tasbih dan parfum untuk oleh-oleh. Kupikir buat apa menukarkan rupiah ke  riyal kalau tidak buat beli-beli. Tasbihnya murah, ternyata tertulis di plastiknya ‘Made in China’ hehehe, aku tidak menyadari sampai istri komentar pada foto tasbih yang tak kirim di WA. "Yang asli dari Arab!" Hadeh, emang di arab ada pabrik tasbih??

Setelah dari masjid ini, kami diantar ke perkebunan kurma. Di area depan Ada banyak jenis kurma dijajakan. aku tak berniat beli kurma disini, hanya sekedar foto-foto dan melihat perkebunan kurma seperti apa. Tapi sepertinya hanya area kecil dari perkebunan kurma yang dibuka untuk umum. Khusus dipakai untuk foto foto dengan background pohon kurma atau bergaya di rindangnya pohon. Ini adalah salah satu foto itu :

photo_2017-03-18_11-17-03.jpg
Foto kenangan di Kebun Kurma
Menjelang siang, kami dijadwalkan sudah kembali ke masjid nabawi untuk sholat dhuhur berjamaah.

Sore, para jamaah mulai memikirkan kira-kira mau belanja apa yang untuk oleh-oleh dari ibadah umroh ini. Waktu yang tepat adalah saat ini. Besuk adalah waktu terakhir di Madinah, dan malam ini kami harus packing, persiapan check out hotel dan siap siap ibadah inti dari perjalanan ini.

Belanja dengan uang riyal serta tidak bisa berkomunikasi lancar dengan pedagangnya memang menyusahkan. Aku harus berpikir dua kali untuk beli-beli. Pedagang disini memang bisa berbahasa Indonesia, tapi hanya sebatas bahasa marketingnya misal : “Murah murah”, atau “bagus bagus, harga jokowi, harga tanah abang”. Bahkan bisa memanggil calon pembelinya dengan ‘mari ganteng.. mampir’, ‘Beli satu dapat dua!’. eh, bentar, apa tadi? Ganteng?? kok malah kaya bencong.

Di WA, istri menginginkan sajadah ‘made in turki’ yang harus dibeli dari sini, katanya lebih murah daripada di Indonesia. Okelah, aku mencoba menawar sajadah yang dijual disitu. Akhirnya aku mendapatkan sajadah turki di sebuah kios bawah hotel, beli lima buah langsung bisa lebih murah. Harga yg kudapat sebenarnya dibanding Indonesia memang lebih murah apa lebih mahal tidak terpikir lagi, yang penting itu oleh oleh asli dibawa dari tanah arab, seperti kemauan istri. Hahaha.

Secara teknis, saat Sholat Jumat kami dianjurkan sudah memakai pakaian ihrom. Dan selepas sholat jumat langsung disambung sholat asar yang dijamak qashar  karena perjalanan Madinah ke Mekah memakan waktu yang lumayan panjang.

Mamakai pakaian ihrom kalau belum terbiasa memang  terasa ribet, sering jatuh jatuh jika dipakai gerak. Waktu sholat sepertinya malah repot membenarkan letak pakai ihrom yang jatuh jatuh itu. Terlebih waktu sujud, tangan  yang harus manapak  lantai ribet mencari jalan keluar dari jeratan kain ihrom.  kadang malah terasa lucu  kalau tidak ketemu ketemu ujung kainnya. Terpaksalah tangan menapak dari balik kain ihrom.

Habis sholat jumat yang dilanjut sholat asar yang dijamak dan makan siang, kami mulai berangkat naik bus menuju masjid Abyar Ali (orang indonesia sering menyebutnya dengan masjid Bir Ali). Ini adalah masjid untuk mengambil miqot, yaitu batas tempat dimana kami harus memakai pakaian ihrom dan berniat untuk mulai menjalankan rukun ibadah umroh.

(bersambung di Catatan Ibadah Umroh II (di Mekkah))


Selasa, Februari 21, 2017

Tentang Naylatifa-Naura berulang tahun

Bulan Februari ini kedua anakku berulang tahun. Dua-duanya lahir di bulan Februari dan tanggalnya juga hampir berbarengan. Naura tanggal 18 Februari sedangkan Naylatifa tanggal 20 Februari. Naura berulang tahun yang ke-6 sementara Naylatifa berulang tahun yang ke-8.  

Perayaan ulang tahun kelahiran, sebenarnya bukan suatu tradisi di keluarga kami. Bukan sesuatu yang wajib. Kadang saja dirayakan, misal tidak dirayakan juga tidak masalah.  Tapi bagi anak-anak, hari ulang merupakan sesuatu yang istimewa. Mungkin tergambar dipikirannya tentang perayaan ultah di acara-acara TV atau teman-temannya di sekolah. Sekali waktu, si Naura terutama, menanyakan tentang ultahnya. Mau seperti apa? Apakah akan dirayakan seperti beberapa temannya di TK? Sambil lalu biasanya aku alihkan ke pembicaraan lain, supaya Naura tidak terlalu memikirkan perayaan ulang tahunnya. Biasa aja, Dik.  Ayah dan mamamu tidak berencana merayakan bersama teman-temanmu di ultahmu ini.  Kuharap bukan sesuatu yang menyedihkan. Biasa aja, pokoknya tidak ada rencana, gitu aja. Jadi jangan bayangkan ulang tahunmu seperti temanmu yang dirayakan bersama itu. Iya deh, nanti dikasih hadiah. Tapi tidak dirayakan di sekolah atau mengundang teman-teman, ya. Cukup sekeluarga aja.. 

Naylatifa Naura begitu semangat dengan hari ultahnya. hari itu merupakan hari yang spesial. Saking spesialnya, Naylatifa-naura hanya mau dikasih ucapan selamat ulang tahun di hari tepat tanggal lahirnya. Tanggal 18 saat Naura ultah, Naylatifa blm menganggap dirinya ultah. 'Aku kan belum ultah, ngasih ucapannya besuk (tanggal 20), dong'. Kata naylatifa berargumen. Waduh, ini berarti kalau perayaan ultah harus dua kali. Dasar anak anak. Masak gak bisa dibarengkan. meleset dikit aja tanggalnya g boleh. Hehehe

"Aku mau dikasih hadiah apa, ma?" Naura nagih janji hadiahnya. "Iya, nanti kita ke tempat belanja sekalian beli hadiah buat adik". Suatu waktu, saat belanja di sebuah mart, Naura kelihatan kepingin mainan papan tulis magnet. Mamanya menangkap kesan itu. Jadi hadiah untuk Naura rencana nanti dibelikan mainan papan tulis magnet. "OK, makanya ayo cepet siap berangkat. Ganti bajunya yang bersih, kita beli hadiah buat adik!


Sebelum berangkat kami sempat berfoto bersama, Foto ulang tahun, Ide Naylatifa  yang ori dan polos, tidak perlu kue ultah yang ada lilinnya. Cukup tulisan penanda bahwa Naylatifa dan Naura sedang berulang tahun, bukankah kue ultah juga sekedar penanda? dan Klik!, jadilah foto kenangan itu.

Selamat ulang tahun anak anakku, ayah dan mamamu sangat mensukuri kehadiranmu. Semoga engkau akan lebih mengerti bahwa ulang tahun sebenarnya untuk mensyukuri hidup yang telah diberikan Tuhan selama ini. Merayakan kehidupan, juga mencintai kehidupan. Bukan tentang seremonial, bukan tentang  senang-senang, bukan tentang hadiah hadiah.  Doa kami selalu untukmu.



Senin, Februari 13, 2017

Naylatifa dan Naura


Ini tulisan tentang kedua anakku. Naylatifa, 8 tahun dan Naura, 6 tahun. Keduanya  putri, selisih usia hanya 2 tahun. Sehari-hari selepas sekolah, mereka bermain berdua. Hanya berdua. Ya, sebab rumah kami memang agak jauh dari perkampungan. Dulunya merupakan area sawah pinggir desa. Tetangga paling dekat berjarak 50 meter dan putranya pun tidak sebaya. Nayla-Naura bermain dengan imaginasi yang sama, asyik dengan dunia kanak-kanak mereka. Tapi dengan selisih umur yang lumayan dekat, Naylatifa belum bisa menjadi kakak yang bisa mengasuh (jawa : ngemong) adiknya. Kadang mereka saling memperebutkan sesuatu dan ketidaksabaran Naylatifa terlontar jelas dengan memarahi adiknya, malah sering diekspresikan secara fisik dengan memukul adiknya. Sementara adiknya juga tidak mau kalah. Dan setelah itu mereka saling mengadu kepada ayah atau mamanya. Pada saat-saat seperti itu orang tua bener-bener dituntut untuk menjadi hakim yang adil. Jadi siapa bilang menjadi hakim itu hanya bagi orang-orang yang sekolah hukum? Ternyata tuntutan menjadi hakim yang adil terbuka bagi siapa saja.

Naylatifa, yang besar,  kelas 2 SD. Sifatnya sensitif, perasaannya gampang tersentuh. Lebih cengeng tapi juga periang. Sangat ekspresif dengan mood-nya.  Mudah bergaul baik dengan teman dan gurunya. Tipenya romantis karena dia bisa menceritakan dengan baik pengalamannya, sesekali menuliskan pengalamannya itu di buku tulisnya. Prestasinya bagus di sekolah. Rajin. Mandiri, senang mengerjakan apa-apa sendiri. Relatif terhadap adiknya. Naylatifa lebih termotivasi dengan pujian. Sangat sensitif terhadap celaan. Sekali tersentuh perasaannya bisa ngambeg dan nangis sesenggukan. 

Naura, adiknya, kelas TK besar menjelang SD. Lebih pendiam dan malu malu terhadap orang yang baru dikenal. Kalau ditanya tidak spontan langsung menjawab, seperti dipikir-pikirnya lebih dulu baru bersuara.  Tapi karakternya lebih rasional. Tidak se-sensitif kakaknya. Karenanya Naura selalu menang bila adu argumen dengan kakaknya. Keingintahuannya besar. Di kepalanya kadang muncul pertanyaan tak terduga. Suatu kali misal, dia mempertanyakan bagaimana cara malaikat Roqib Atid itu mencatat amalan manusia? ' atau 'kenapa kok laki2 tidak bisa melahirkan?' dan yang paling aneh ia pernah bertanya : " Tuhan itu terbuat dari apa?" hehe.. emang Tuhan dikira jenis makanan, apa?? Entah apa yang dipahami tentang Tuhan hingga ia bertanya seperti itu, yang jelas ia mulai berpikir tentang konsep ketuhanan. 
Naura sepertinya juga pemerhati yang baik, ia lebih detail memperhatikan sesuatu. Barang yang ketlingsut biasanya ditemukan pertama oleh Naura, ia ingat dimana letak barang hilang itu.  bercerita tentang temannya yang lewat, ia bisa menyebutkan temannya pakai baju apa, jilbab warna apa dsb. Kalau sudah punya keinginan susah dibujuk dan terus merajuk. Pernah suatu waktu dia minta jajan tanpa bisa ditunda.  Padahal si rumah juga masih ada jajanan. "oke, syaratnya harus jalan kaki, tidak naik motor", kataku. Kupikir lebih baik dia merasakan bersusah susah dulu sebelum memperoleh keinginannya. Disamping itu, jalan kaki juga melatih kaki-kakinya lebih kuat. akhirnya kami jalan kaki pulang-pergi ke warung yang berjarak sekitar 1,5 km hanya untuk satu jajanan makanan ringan.  Sayang, kadang aku sendiri tidak punya banyak waktu untuk menemaninya jalan (jalan-jalan) untuk mengendalikan keinginannya itu. Naura lebih termotivasi dengan hadiah, makanan yang disukai. Saya pernah tertawa iba dengan Naura ketika kutanya mengapa senang belajar di TPA? Bukan karena senang belajar dan bermain bersama teman temannya. Dengan polosnya ia menjawab : Karena dikasih makanan! 

Mereka masing-masing punya karakter sendiri, berbeda.  Ada kelebihan, ada kekurangan. Berangkat dari situ kuharap mereka mampu mengatasi sifat bawaan kanak kanaknya untuk menjadi pribadi yang dewasa. Naylatifa mampu mengelola perasaan sensitifnya, Naura mampu meredam keinginan fisik yang sering menguasai pikirannya. Jalan masih panjang ke depan, berliku dan berwarna. semoga mereka mampu menempa diri menjadi pribadi yang bijaksana. Amin. 

Rabu, Februari 01, 2017

Naura kecil ngompol

Suatu pagi, Naura kecil yang baru bangun tidur langsung menuju mamanya dan lapor kalau gulingnya basah penuh keringat. "Ma, ini gulingku basah, keringeten". Kata Naura sambil menunjukkan gulingnya yang basah, seakan mencoba meyakinkan kalau gulingnya bener bener basah kuyup karena ompol.
"Oh, ya?", agak curiga kuambil guling itu dan kucium, ternyata baunya khas ompol anak kecil. Kuingat semalam Naura minum es kelapa muda banyak banget. Jelas itu bukan keringat, tapi air seni Naura ngompol!.
"Lah, ini sih bukan keringat, tapi ompol!", spontan aku berucap sambil tertawa tertahan. Mamanya juga ikutan tertawa.  
Sepertinya Naura tahu kalau diketawain, rautnya jadi seperti merasa bersalah, mungkin sedikit malu, menahan tangis. 
Disaat itu aku seperti merasa bersalah tidak bisa menjaga harga dirinya. Bagaimanapun dia tidak boleh merasa ditertawakan hanya karena kepolosannya. 
"Gpp, Dik. Nanti bisa dicuci dan dijemur". Kataku menghibur Naura, tetapi nada suaraku masih bercampur tawa. Ah! Kenapa juga aku susah menjaga tawaku? 
Maafkan ayahmu, Nak. Bukan maksudku menertawaimu, habis kamu emang lucu!

Selasa, Januari 31, 2017

Sochib e-lBashr


Kok namanya aneh? Sochib e-lBashr. Gek macane piye, yo? 
Macane?? 
Sing jelas, yen macan'e (harimau) nang alas. Auum.. Hehehehe.  
Maksudnya, biar keren atau gimana kok dibuat(-buat) seperti itu? 
Oke, Tulisan ini berusaha untuk menjelaskan sedikit, mengapa nama ini akhirnya saya gunakan sebagai nama profil di akun Facebook saya. 
(Gak ada yang tanya sih, sebenarnya. Juga gak ada yang peduli. Jadi ini sekedar tulisan dibaca silakan gak dibaca ya gak papa, ini saya tulis buat kesenangan pribadi, iseng2 nulis gitulah..)

Nama depan, sochib, Ini sebenarnya nama umum yang sering terdengar, karena dibacanya sohib, bukan socib, ejaan nya memakai 'ch' karena ia menggunakan transliterasi lama untuk huruf arab  "ح". Satu yang mungkin rada aneh adalah nama belakang e-lBashr. Kata yang susah dibaca tadi. 
Ada sedikit alasan kenapa kata itu dan dengan ejaan seperti itu,  menjadi nama belakang saya.

Jadi gini, (masih baca kan? Terimakasih. hehehe)

Nama sochib sebenarnya potongan dari nama panjang sochibulbasri. Nama panjang ini adalah nama pemberian asli dari orang tua. Berasal dari bahasa Arab yang artinya pemilik penglihatan. Sama, seperti arti sohib dari frase kata sohibul bait yang artinya pemilik rumah juga misal sohibul hajat yang berarti pemilik hajat. Terus, mengapa harus dipotong? Ini supaya bisa dipakai untuk dua orang. Sochib dan Basri. Kata sochib diberikan kepada saya, sedangkan Basri diberikan untuk saudara kembar saya. 
Yup, betul!, saya anak kembar. Kata ortu dulu, memberi nama anak kembar dengan satu frase dan kemudian dibagi dua itu adalah hal yang biasa (kecenderungan umum, khususnya di daerah kelahiran saya, Mantingan Ngawi). Jadi nama saya di KTP atau Akte Lahir sebenarnya cuma satu kata, potongan dari frase sochibulbasri, yaitu 'sochib' saja. 

Nah,  di era internet dimana system database nama orang mengharuskan penggunaan nama depan dan nama belakang. Maka saya perlu menambahkan juga nama belakang agar pendaftaran akun bisa diterima oleh system database. Jika saya menambahkan saja nama Basri jadi nama belakang, rasanya kok nama pemberian orangtua ini jadi saya pakai sendiri?? Tapi kalau misal saya tambahkan kata lain selain Basri, ntar artinya jadi beda, dong, bukan lagi seperti yang dimaksudkan orang tua.. 

Baiklah, kayaknya kata Basri ini perlu sedikit dimodifikasi agar tidak secara langsung menggunakan nama pemberian orangtua hanya untuk saya diri sendiri. Dan sedikit modifikasi yang saya lakukan disini hanyalah di masalah ejaan. 

Setelah googling sana-sini, Kata Basri, ternyata sebenarnya berasal dari bahasa Arab 'البصر' (baru tahu, ya? saya). dimana s-nya memakai huruf shod (ص) atau jika dialih aksara (transliterasi) ke bahasa Indonesia menjadi huruf "sh". Ok, biar beda, saya pakai aja nama belakang menjadi 'elbashr'. el sendiri adalah huruf yang sering dipakai orang barat dalam menuliskan huruf sandang alif-lam dalam kata arab. Belakangan kata elbashr ini saya ubah lagi menjadi e-lBashr, biar tidak terkesan terlalu kebarat-baratan (ing ngatase saya dilahirkan sebagai orang timur dan berdiam di negera timur). e- dalam kata e-lbashr itu meniru kata e- dalam kata e-mail atau e-commerce dimana dalam bidang Teknologi Informasi merupakan kependekan dari electronic. Jadi pesan yang juga ingin saya sampaikan lewat ejaan ini adalah bahwa saya lebih khusus lagi cenderung keiptek-iptekan alih-alih kebarat-baratan. Hahaha.  OK, Bro..

Kamis, Januari 26, 2017

You are The Reason

My Innocent Girls


Sudah lama tidak merenung dan menuliskan sesuatu tentang anak. Baiklah, aku akan mencoba menuliskannya. 

Bagiku, sebagai bentuk rasa tanggung jawab orang tua yang telah melahirkan anak ke dunia ini adalah dengan memberi contoh bagaimana cara menjalani hidup di dunia ini dengan benar. Anak adalah alasan utama untuk tetap berjuang dalam hidup, bagaimana mencari makna positif atau bagaimana  mengatasi perasaan negatif yang muncul. Jika orangtua tidak tahu bagaimana menjalani hidup dengan benar, mengapa membuat kehidupan baru dengan melahirkan manusia ke dunia ini? 

Sikap - sikap yang baik secara umum harus bisa dikenali dan dijalani. Ketulusan, kesabaran, tanpa iri dan dengki, bersyukur terhadap segala hal yang telah diberi, menerima apapun keadaannya dirinya baik fisik maupun mental,  harus bisa menjadi sikap hidupnya. Mungkin akan terasa sakit pada awalnya, tapi kalau sudah menjadi kebiasaan, sikap itu akan menjadi karakter dan membuat jiwanya terus berkembang, bahagia dengan kehidupannya. Baik untuk dirinya sendiri juga memancar ke lingkungan di luar dirinya. Seperti belajar naik sepeda, sesekali mungkin akan jatuh, sakit, tapi itu adalah proses yang harus dilalui. Sekali bisa mengendarainya, dia tak perlu jatuh-jatuh lagi malah mungkin bisa memboncengkan teman bersamanya.. 

Selalu ada kekhawatiran apakah anak-anakku akan bisa melewati semua ujian hidup yang akan ada. Doa yang selalu aku panjatkan adalah semoga anak-anakku mampu melewati semuanya, tanpa mengakibatkan kerusakan pada fisiknya, juga mentalnya. Sanggup ditempa untuk menjadi manusia yang bijaksana, berguna bagi kehidupan ini. Amin.

Jumat, November 04, 2011

Naura Maulida Widandari

Naura Maulida Widandari. Anakku yang kedua. Berjenis kelamin perempuan seperti kakaknya, Nayla. Lahir pada tanggal 18 Februari 2011 tepat dua hari menjelang ulang tahun yang kedua dari kakaknya yang lahir pada tanggal 20 Februari 2009. Yup, hampir selisih 2 tahun persis.
Data dari rumah sakit RSKIA PKU Muhammadiyah Kotagede Yogyakarta tertulis: Lahir pada hari Jumat Pahing, Tanggal 18 Februari 2011 Masehi atau 15 Rabiul Awal 1432 H. Jam 03.55 WIB. Berat Badan 3.100 Gram. Panjang 49 cm.
Orang bilang, anakku yang kedua ini agak pendiam, tidak seperti kakaknya yang banyak omong. Tubuh yang mirip mama, tapi sifat mirip bapak. Sementara anakku yang pertama, tubuh cenderung ke bapak, sifat mirip mama. Saling silang, percampuran gen yang merata.
Bapak-Mama. Anakku memang memanggil orang tuanya dengan sebutan Bapak & Mama. Campur. Dari budaya campuran tersebut, saya memberi nama anak dengan bahasa yang campur-campur juga. Sama halnya dengan pemberian nama anak pertama, nama anak kedua juga memakai bahasa arab dan sansekerta. Naura Maulida Widandari. Naura yang berarti bunga, Maulida karena dia lahir di bulan qomariah maulud. Naura maulida, bunganya bulan maulud. Sementara widandari berarti bidadari. Kuharap dia juga cantik, seperti bidadari, bukan hanya cantik fisiknya, tapi juga perangainya.
Kusadar, anak memiliki alur kehidupannya sendiri yang berbeda dengan kedua orang tuanya. Kuharap, dia bisa menjalani tahap-tahap kehidupannya dengan baik, bisa mengambil pelajaran dari setiap masalah yang di alami, semakin dewasa dan dewasa mengisi hidupnya dengan kebajikan, bijak serta bahagia dengan hidupnya.
Amin.

Jika setiap orang tua memberi pesan kepada anak-anaknya buat bekal kehidupannya kelak, maka inilah yang kupesankan padamu anakku..it's sad, but true.
"You can't count in anyone except yourself"
Lebih cepat kamu memahaminya, lebih baik buat hidupmu nanti.

Selasa, Maret 31, 2009

Naylatifa Nirwasita

Jumat, 20 Februari 2009, Saat matahari belum mau menampakkan diri, tangisan anakku yang pertama memecahkan sunyinya pagi itu. Lahir normal seperti harapanku. Alhamdulillahirabbilalamin. Ada rasa bahagia yg muncul dalam hati. Rasa kantuk setelah semalaman begadang menemani istri menahan rasa sakit kontraksi seakan sirna, mungkin seperti ini kebahagian orang tua akan kelahiran anaknya. Ah, kini aku sudah menjadi bapak, kulihat wajah kecil dan tangan yang mungil itu mengetuk-ngetuk hatiku untuk selalu bisa melindunginya. Ya, Allah Ya Rabbi, aku berharap bisa melaksanakan semua itu.

Lahir di RSKIA Kota Gede, putri, berat 3.2 kg, panjang 49 cm, kuberi nama 'Naylatifa Nirwasita', berasal dari dua kata berbahasa arab Nayla Latifa dan bahasa Sansekerta Nirwasita. Secara keseluruhan bisa diartikan wanita yang pemurah menyenangkan serta bijaksana. Semoga doa ini akan selalu menyertai hidupnya. Amin.

Waktu berlalu.

Kini Nayla sudah berumur satu bulan, hobinya nangis, bobo', mimik tutu, ee' sama wowos. :-) Namanya juga masih kecil. Kata orang, moment seperti ini hanya sebentar. Jangan sampai kita kehilangan moment, tersadar dan mendapati anak kita sudah besar. Walaupun sepertinya repot dan kurang tidur, tapi kerepotan itu terasa menyenangkan.

Dokumentasi Nayla

Upacara Aqiqoh Nayla di desa Tempursari, Mantingan, Ngawi

Senin, Juni 30, 2008

AboutMe

Saya dilahirkan dengan nama Sochibulbasri (baca: Sohibulbasri). CH di tengah merupakan transliterasi huruf arab ( ح ) yang bunyinya mirip H. Sengaja ditulis masih dengan ejaan lama karena huruf tersebut di masa itu umum dipakai. Di samping itu menurut transliterasi arab – latin yang ada tidak terdapat huruf biasa yang mewakili konsonan tersebut. Dalam pedoman transliterasi, huruf tersebut diwakili dengan h (h bergaris bawah, h sendiri untuk huruf arab [ ﻫ]). Jadi, tambah lucu aja kalau nama saya selalu ditulis, sohib. :-).
Nama ini terbentuk dari dua kata : Sochib dan Basri. Nama depan saya Sochib dan nama belakang saya Basri. Eits, bukan seperti itu, di KTP nama saya tertulis Sochib saja, Basri adalah nama untuk saudara kembar saya. Ya, saya terlahir kembar.
Dengan tidak bermaksud mengubah arti pemberian nama, dan juga tidak ingin memiliki nama pemberian orang tua itu sendirian, maka di era internet ini, dimana setiap register mengharuskan pengisian nama depan (first name) dan nama belakang (last name) , saya sering mengisikan nama belakang dengan albashara, dimana saya anggap dan saya maksudkan memiliki arti sama dengan Sochibulbasri. (maksudnya kira-kira sebuah doa semoga yang diberi nama akan ”memiliki penglihatan/pandangan/view batin”). Saya juga pernah diberitahu orang tua tentang uniknya nama itu bagi anak kembar. Kalau dipikir kadang membingungkan. Orang yang melihat saya sendirian tanpa saudara saya, maka orang bisa mengartikan sochib itu yang memiliki basri, tapi kalau orang melihat saudara kembar saya si Basri, maka orang akan mengartikan Basri itu temannya Sochib. Bukankah kata Sochib sendiri juga bisa diartikan dengan sahabat? Bingungkan?
Cukup bahas namanya. 

Asal saya dari daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, tepatnya di Desa Tempursari, Tambakboyo, Mantingan, Ngawi. Suatu desa yang menurut ingatan masa kecil saya tergambar indah seperti dalam lukisan. Saya masih melihat pencari kayu hutan yang melewati jalan desa untuk membawa kayunya ke pasar. Mandi di sungai yang masih mengalir jernih, berjemur di batu-batu kecil pinggiran sungai, Sayang sekarang sungainya sudah tidak seperti dulu, tidak terlihat lagi kerikil sungai atau aliran air yang jernih, semua sudah habis diambil untuk keperluan material bangunan. Apakah memang dunia ini cenderung semakin rusak? lalu apa jadinya di dunia ini tahun 2020 nanti? tahun-tahun selanjutnya? Sebuah pertanyaan yang mengerikan untuk dipikirkan. (sekarang, saya suka merindukan Gunung Lawu meletus lagi, seperti halnya Gunung Merapi di Yogyakarta yang rajin meletus setiap empat tahunan sekali (tapi meletus tanpa korban jiwa tentunya :)), sehingga material vulkanik seperti batu-batu dan kerikil sungai akan ada lagi menghiasi sungai-sungai yang berhulu di gunung tersebut, termasuk sungai dekat rumahku itu).
Bicara tentang budaya masyarakatnya, saya bukan ahlinya, yang saya tahu saya mengikuti tradisi-tradisi yang ada di desa. Pengajian, Tahlilan, Berjanjen (membaca Kitab Al-Barzanzi), dan silaturahmi di masa lebaran. Ya, bisa dikatakan budaya Islam Tradisional dan saya suka itu. Waktu lebaran budaya saling berkunjung dari rumah ke rumah masih kental, bahkan cenderung makin ramai. Saya bisa berdiri selama 15 menit hanya untuk berjabat tangan pada barisan tamu yang datang dari kampung sebelah. Datang, jabat tangan dan langsung menuju rumah selanjutnya untuk sekedar berjabat dan bersapa, tidak sempat duduk-duduk dan mengobrol karena tempatnya tidak akan muat…

Bidang Pendidikan, sekolah dasar saya tempuh di SDN Gondang I, kemudian masuk ke MTs Tempursari. Ini sekolah di desaku sendiri. diteruskan ke SMA Al-Islam I Surakarta. Selepasnya, saya mengikuti UMPTN tahun 1994, dan diterima di Fakultas Farmasi UGM. Tapi di fakultas ini saya merasa tidak cocok, mungkin kapasitas otakku hanya pas-pasan untuk bidang hapalan, hingga akhirnya saya memutuskan ikut UMPTN lagi tahun 1995 untuk pindah jurusan. Alhamdulillah, saya lolos juga masuk ke Teknik Elektro UGM. Berada di Fakultas ini akhirnya saya semakin yakin, otakku tidak hanya pas-pasan untuk bidang hapalan, tapi juga untuk hitung-hitungan! he..he.he cape deh..

Kini saya tinggal di Yogyakarta bersama istri, Windadari Murni H. Ketika saya tulis ini anak pertama saya sudah berumur 1 ½ bulan dalam kandungan. Saya berharap anak saya nanti lahir normal, bisa hidup di dunia ini dengan benar, bisa menemukan dirinya dan bahagia dengan hidupnya. Amin.


Kontributor